Cerpen Sepucuk Surat Untuuku
Sepucuk Surat Untukku
Matahari
tampak tak seramah pagi kemarin, awan putih setia menemani sinarnya dan anginpun begitu lembut menerpa pepohonan
namun serasa perih terasa saat tersentuh kulit. Sejak turun dari bus tadi,
seorang gadis dengan menggunakan PSH sedang berjalan menyusuri gang sambil
sesekali melihat arloji yang melingkar manis di tangan kirinya.
Sesekali
juga gadis itu menjawab sapaan dari remaja yang berjalan mendahului
langkahnya “ Permisi bu?..” jawab mereka
dengan takdzim. “ Iya ..” Jawab gadis tersebut dengan senyum ramah pula.
Langkah
kakinya semakin dipercepat setelah melihat gerbang sudah kelihatan dari
kejauhan. Terlihat dari kejauhan satpam dan beberapa guru yang sudah memanggil anak-anak yang
masih jalan agar mempercepat langkahnya karena sebentar lagi bel akan berbunyi.
Hal itu menandakan gerbang akan segera ditutup dan bagi yang terlambat akan
mendapatkan hukuman dari Bapak Ibu Guru Bagian Konseling atau BK.
Gadis
berbaju keki itu berjalan menghampiri teman-teman guru sambil nafas yang
tersengal-sengal namun keramahannya membuat orang lain tidak tahu bahwa dirinya
sebenarnya sangat gugup. Sambil bersalaman dan sedikit dibungkukan badannya
berhadapan dengan beberapa teman guru wanita yang kelihatannya lebih tua
darinya.
Sampailah
dia bersalaman dengan seorang teman Guru wanita yang wajahnya tidak pernah
tersenyum pada saat berhadapan dengan teman guru apalagi siswanya. Dia adalah
Bu Saidah, dia terkenal galak sekali menurut teman-teman guru dan murid-murid
namun galaknya karena dia menerapkan disiplin , kebetulan dia juga Koordinator
BP/BK .
Tanpa
senyum dan tatapan tajam Bu Saidah berbicara dengan nada tinggi kepada gadis
tersebut,” Besok lagi jangan ngepres kalo berangkat ya bu!”, gadis itu hanya
menjawab , “ Iya maaf Bu...tadi busnya terlambat”.
Gadis
itu berlalu dihadapannya dengan mengingat betul perkataan bu Saidah tadi. Dalam
benaknya berkecamuk rasa yang muncul, seandainya saja aku punya motor seperti
teman yang lainnya mungkin aku tidak harus naik bus dan akhirnya terlambat
seperti ini.
Siti itulah nama gadis tersebut yang baru
diterima menjadi guru di sebuah sekolah negeri berbasis Agama. Siti sangat
bersyukur karena selain bisa melewati masa-masa yang sulit saat kuliah dengan
biaya pas-pasan atau kadang harus selalu puasa, ataupun harus mencari tambahan
kerja agar bisa menyelesaikan kuliahnya, akhirnya ending dari semuanya sebelum
dia lulus dia sudah berkerja di sebuah sekolah swasta di kota Atlas tempat
kuliahnya dan setelah kelulusan dia langsung diterima di sebuah sekolah negeri tempat kelahirannya.
Lahir
dari orang yang tidak mampu namun semangat dan ketekunan membuat banyak orang
seperti guru dan keluarganya percaya bahwa Siti mampu kuliah dan bisa menjadi
sarjana. Lamunan Siti buyar setelah dia ditegur oleh siswanya, “ Bu
Siti...untuk essai no. 2 maksudnya apa ya bu?”.
Siti tergagap walau akhirnya menjelaskan apa yang
diinginkan siswanya. Sungguh tidak mudah bagi dirinya yang masih baru lulus dan
mengajar dengan siswa yang banyak jumlahnya dan dia harus menjadi pengganti
tunggal seorang guru bahasa Indonesia yang diterima menjadi pegawai negeri dan
ditempatkan di sebuah sekolah lain.
Siti
berpikir ulang kenapa Tuhan memberikan rezeki di sini. Sebenarnya belum ada
seminggu Siti sangat kelelahan karena disamping kondisi rumahnya yang jauh, dia
juga harus mengajar sendrian. Akhirnya Siti berjuang menghadapi waka bidang kurikulum
agar bisa dikurangi jamnya mengajar dengan alasan tidak fokus membimbing
murid-murid.
Syukurlah
yang saat itu menjadi wakur bisa menerima alasannya, mungkin karena wajahnya
yang memelas ataukah badanya yang terlalu kurus hingga wakur yang bernama Pak
Tasrip itu kasihan kepada Siti.
Menjadi
guru baru untuk kelas XII adalah hal yang tidak enak bagi Siti, selain dari
awal dia tidak mengajar, apalagi mereka
usianya tidka terpaut jauh dari Siti. Baru kemarin ada guru yang bilang dan
sampilah ke telinga Siti. “ Itu lho guru baru, tidak punya wibawa sama sekali !
“. Siti hanya diam beberapa kalimat yang tidak enak tentang dirinya mampir
sampi ke telengannya juga.
Salah
apa aku, pikir Siti. Sebernarnya Siti adalah orang yang tegas dan tidak mau
basa basi, namun justru karena apa adanya tersebut semua siswa menerima dengan
senang hati. Belum lagi Siti melihat bahwa siswanya adalah adiknya, apabila
Siti menjaga jarak tentu akan sulit sekali dia mendapatkan informasi apalagi
akan menasihatinya. Namun sayang, kadang kedekatan Siti disalahartikan oleh
bebrapa siswanya, hingga kadang ada yang meremehkan dan tidak hormat selayaknya
dia guru mereka siswa.
“
Sudahlah jangan dipikir Sit, semua orang pasti akan mengalami sepertimu. Guru
baru banyak yang suka banyak juga yang tidak suka”. Itu adalah kalimat Pak
Trisna , teman satu mapel yang membantu Siti setelah Siti menghadap Pak Tasrip.
Kedekatanya Trisna dan Siti membuatnya seperti saudara atau kakak adik, karena
selain mengajar pada pelajaran yang sama, mereka juga punya latar belakang dari
keluarga yang tidak mampu namun akhirnya sukses menjadi sarjana. Dari sanalah
Siti sering curhat dengan Pak Trisna perihal apapun, dari siwa, teman guru yang
tidak menyukainya, sampai pacarnya yang sedang pendidikan di Bandung.
Di
saat kejenuhan dan gempuran segala masalah di tempatnya yang baru. Siti mencoba berbaik dengan keadaan,
sering Siti diajak oleh Trisna pergi ke rumah-rumah muridnya yang jauh. Sekedar
main atau memang ada tugas, kebetulan juga Trisna salah satu guru BP selain guru bahasa Indonesia.
Pagi
itu saat Siti sedang menyiapkan bahan mengajar yang kebetulan bukan jam
pertama. Dia menarik laci mejanya dan mendapatkan sebuah amplop bersih berwarna
pink. Siti menengok ke kanan ke kiri mungkinkah ada yang salah menaruh surat
untukku, Pikirnya.
Siti
membetulkan tempat duduknya, sambil hati-hati sekali dia membuka amplop
tersebut. Kebetulan sekali di ruang guru pagi itu hanya beberapa guru yang ada
dan mereka masih sibuk dengan kerjaannya masing-masing selebihnya mereka sedang
mengajar. Tertulis di amplop tidak ada nama pengirim. Dibacanya puisi itu
dengan perasaan bingung.
Kendal, 15 Mei 2003
Yth. Ibu Siti Maemunah
Yang sederhana namun kami suka
Assalamualaikum,
Wr. Wb.
Ibu...sebelumnya
kami mohon maaf karena tanpa ada hujan dan petir tiba-tiba kami mengirim surat
kepada Ibu. Ibu, sebenarnya surat ini mewakili kami yang awalnya ingin membuat
kejutan untuk Ibu saat Ibu ulang tahun. Namun, saat kami mengetahui bulan ulang
tahun ibu ternyata bulan yang paling akhir dan masih lama, kemungkinan usia
kami di sekolah tinggal beberapa bulan lagi serta tidak mungkin rasanya kami
bisa bertemu dengan Ibu lagi ( PD bangeeet kalo Lulus bu hehehe)
Ibu....saat
pertama ketemu dengan Ibu, kata teman-teman ibu itu kalo senyum manis tapi
sayang, jarang sekali senyum apalagi kalo sedang mengajar, sudah suaranya keras
dan lantang tambah seriusnya minta ampun. Tapi....setelah kenal dengan Ibu,
kami akhirnya tahu Ibu bisa bicara halus juga kalo sedang menasihati kami atau
kata teman-teman kalo sedang curhat suara bu Siti lembuuut sekali. Sayang sekali aku malu kalo mau curhat ke Ibu
hehehhe
Ibu...kami
minta maaf ya, karena aku sering buat Ibu marah dan tertawa , teman-teman juga
ikut pesen bu..kata mereka mau minta maaf sama Ibu karena sering tidak buat
tugas dan mencatat kalo ibu memberi tugas,katanya nunggu bu Siti marah
dulu.heheh maaf sekali ya bu...Tapi ini maafnya serius kok bu..kami minta maaf
dan minta didoakan agar Ujian Nasional kami sukses dan lulus semua ya bu..aamiin..
makasih doanya bu Siti....jangan lupa Abu Nawasnya dibaca dan jangan tertawa
tertiwi sendiri ya bu.....Salam hormat dari kami XII IPS 4.
Wassalamualaikum,Wr.Wb.
Dilipatnya
kertas surat tersebut dan Siti pun menahan tawa, ingin rasanya dia menumpahkan
kelucuan yang baru saja dia terima. Siti mengambil sebuah buku yang berjudul
Abu Nawas dan akhirnya cerita demi cerita Siti baca dan saat tertawa dia
teringat lagi pada tulisan di surat itu..jangan tertawa tertiwi
sendiri...hehehe lucu juga anak ini dan aku tahu siapa pengirimnya dia pasti
ketua kelas XII IPS 4 namanya Moh. Rifki.
Teman-temannya
biasa memanggil dengan nama Ipin entah kenapa Sitipun tidak tahu alasannya.
Anaknya periang dan tidak bisa diam, Ipin selalu memberikan kesegaran baru apabila Siti mengajar, dan awalnya mengajar
di kelas XII atau kelas tiga SMA adalah hal yang menakutkan, ternyata Siti bisa
membuang jauh-jauh pikiran tersebut setelah awal pertama jadwal dia masuk
adalah XII IPS 4.
Surat
itu laksana oase di padang pasir, karena rasa bosan dan rasa tidak percaya diri
yang hampir menyelimuti dirinya akhir-akhir ini. Sekarang Siti mengetahui bahwa
rasa asih dan perhatian yang dia tumbuhkan selama ini membuat murid-murid dapat
memahami dirinya dan mampu menerima materi darinya.
Sekarang
12 tahun sudah lamanya Siti mengajar di tempat pertama dia dipanggil setelah
menerima ijazah S1 dulu. Dan beberapa kali pula Moh. Rifki bersama
teman-temanya bertandang atau hanya sekedar melihat-lihat sekolahnya atau pula
menemui Siti dan teman-teman guru lainnya. Dan surat itulah salah satunya yang
bisa membuat Siti bertahan, karena menjadi seorang guru pasti ada duka banyak
pula sukanya.
Komentar
Posting Komentar