Cerpen Kisah seorang Dara


Layu Sebelum Berkembang

Matahari serasa setia menemani langit biru yang seolah sedang bermanja ria dengan memanggil untuk bermain bergulung-gulung sedang berkejaran. Tampak dari kejauhan wajah-wajah yang lelah seharian melewati waktu yang sangat panas dan gerah, belum lagi bertemu dengan sebagian teman yang usil, mata pelajaran yang membosankan dan perut yang keroncongan.
Bel pulang berdering seolah bagi mereka adalah suatu hal yang datang penuh kebahagiaan kata mereka di sekolah itu tiada yang membuat bahagia kecuali jam pulang dan bunyi gerobak es cendol Lek Malik. Baju putih mereka yang sebagian sudah kumal,bahkan  ada bebrapa anak laki-laki yang sengaja dikeluarkan, kalo ditanya oleh guru jawabannya bajunya keluar sendiri, emang baju punya tangan? Ada-ada saja jawaban murid laki-laki yang tidak suka disiplin itu. Jilbab putih yang dipakai murid perempuan juga kelihatan sudah tidak  beraturan, miring sana miring sini ,kecuali segerombol murid yang terdiri dari Anis, Sita, Pawit, dan Arum.
Empat anak itu terkenal sekali karena kecantikannya bukan kepintarannya. Salah satu dari mereka yang bernama Anis adalah salah satu murid yang kerap kali dibicarakan oleh Bu Ida teman satu meja Siti juga guru Bahasa Indonesia pula. Kebetulan Siti tidak mengajar di kelas Nisa cs adalah kelas XI atau kelas 2 tepatnya kelas 2 IPS 2 adalah bagiannya Bu Ida. Sedangkan Siti  mengajar kelas 3 atau kelas XII sedangkan Pak Trisna mengajar kelas 1 atau kelas X.
Pagi itu saat Bapak Ibu guru masuk ruang guru dan bersalam-salaman, mereka pun  menyiapkan beberapa buku ajar yang akan dibawa ke kelas untuk mengajar, namun ada pula yang sedang ngobrol dengan teman tetangga meja yang kebetulan posisi duduk ruang guru sudah ditata sesuai pelajaran dan rumpunnya. Sambil mencari bukunya Bu Ida berbicara  kepada Siti.
“ Eh Bu...Kemarin aku melihat sediri Bu..Anis dibonceng  sama Bapak-bapak yang aku tahu di rumahnya ndak ada Bapaknya karena udah bercerai dengan ibunya”,  jelas Bu Ida.
“ Lihat dimana bu?”
“ Di jalan sore-sore saya sama Mas Aris mau cari lauk”.
“Emang rumahnya dekat dengan rumahnya bu Ida?”
“ Anis Jalan Delima gang 2 bu...ya, dekatlah ”,  
“oooo..”,
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Siti. Perbincangan mereka terputus karena tugas mengajar untuk megajar jam pertama. Perbincangan selanjutnya tentang kasak kusuk Anis semakin hangat setelah kejadian yang menggemparkan di lobi sepulang sekolah.
Siang menjelang sore saat Siti sedang menyiapkan beberapa bekal materi untuk ektrakurikuler.  Ruang guru tampak lenggang karena hanya beberapa guru yang mengajar ekstra yang belum pulang seperti Siti dan Pak Trisna.  Tiba-tiba ada siswa laki-laki dengan pakaian pramuka lengkap masuk ke ruang guru dan sambil terengah-engah dan berusaha mengatur nafasnya, siswa itu berbicara dengan terbata-bata , “ Bu..itu..itu..ada ibu-ibu di lobi sedang mengamuk sambil dipegangi Bapak-bapak”.
“ Kamu tidak tahu siapa mereka?”, tanya Siti dengan suara ikut panik pula.
“ Tidak Bu..”,
“ Ayo kita lihat, eh iya kamu lihat Pak Trisna tidak!”,
“ Saya tadi lihat, keluar naik motor bersama Mas Amim”.
Sitipun kaget mendengar penjelasan dari Tomi siswa kelas X IPA 1 itu, Siti menenangkan perasaannya sambil membaca sholawat, dalam pikirannya siapa gerangan wanita itu, orang gilakah? Dan Amim penjaga dan tukang kebrsihan sekolah kenapa harus pergi dengan Pak Trisna.
Tomi sudah lari mendahului Siti. Siti merasa langkahnya seolah-olah berat, bukan berarti lobi dan ruang guru yang tidak terlalu jauh, namun karena jam sepulang sekolah dan hanya dirinya yang akan menyelesaikan masalah ini sehingga ada keberatan hati kenapa harus hari ini , waktu ini masalah itu datang.
Sesampainya di lobi, Siti melihat seorang Ibu dengan rambut tergerai sebahu dan masih menggunakan pakaian kerja, namun Siti tidak bisa mengetahui pakaian kerja dari kantor mana. Begitu juga seorang laki-laki yang sepertinya dari tadi memegangi Ibu tersebut dan berusaha menenangkannya, namun terlihat bebrapa kali tangan laki-laki tersebut ditepisnya oleh Ibu tersebut.
“Assalamualaikum, maaf ada apa ya bu?” Siti berhati-hati sekali menegur Ibu yang sudah persis dihadapannya. Siti merasakan pandangan Ibu itu seperti akan melahap dirinya bulat-bulat, namun Siti berusaha setenang mungkin, perkataan Ibunya selalu terngiang di telinganya, “ Siiiit..kalo kamu menghadapi keadaan sesulit apapun jangan lupa sholawat, Insyaalloh nanti segalanya dimudahkan”.Dan Sitipun berusaha menggerakkan bibirnya dan hatinya untuk bersholawat. Perempuan itu menghardik Siti dengan mata melotot, “ Saya tahu Anis ngumpet di sini! Ibu gurunya ya! Dimana kelas Anis! “,
“ Anis?!” pekik Siti, “ Maksud Ibu Anis yang mana ya bu?”
“ Anis Pangestuti, pacarnya ini ni...dia anak Ds Tangkuban  Gang Delima 2 rumahnya no. 5 catnya kuning, ibunya janda nakal, pantas anaknya seperti Ibunya”, Rentetan panjang penjelasan perempuan itu sambil tangannya menunjuk laki-laki yang sedari tadi disampingnya namun seperti tidak berdaya.
Siti terpekik menahan rasa tidak bisa dikatakan apa namanya. Namun, Siti berusaha sekuat tenaga agar bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik.
“ Sabar bu...mari duduk dulu  di dalam, memang benar Anis seperti yang ibu masksud memang benar sekolah di sini. Namun, ada atau tidaknya Anis sekarang ini saya sendiri tidak tahu”, Siti menjelaskan dengan halus agar suasana menjadi reda, tampak terlihat nafas yang tersengal-sengal dan dada seperti mau meledak tampak pada diri Ibu tersebut.
“ Tom, kamu sama Rio keliling sekolahan dan lihat semua ruang apakah Anis ada di sini apa tidak”,
“ Bak Bu” jawab Tomi dan Rio dengan cepat bergegas meninggalkan Siti .
Siti melihat wajah-wajah yang kesal dan penuh kemarahan. Selang beberapa lama Rio dan Tomi kembali namun wajahnya tidak menunjukkan ada satu keberhasilan.
“ Bu..kami sudah keliling sekolahan dan tidak ada Anis lagi pula semua kelas sudah dikunci oleh Mas Amim, hanya ada satu kelas yang katanya akan digunakan Ekstra Mading dari Bu Siti, tapi juga tidak ada Anis di situ bu “.
Dengan marah dan tatapan liar, tiba-tiba tanpa permisi dan sebuah kata, wanita tersebut langsung menyeret laki-laki yang dari tadi sepertinya membujuknya,merayu atau bisik-bisik yang Siti enggan untuk bersuara atau mengganggu mereka, bahkan untuk bertanya nama dan berkenalan saja Siti terasa ketakutan.
Tanpa menoleh lagi kedua orang itu pergi meninggalkan Siti yang kebingungan, masih terdengar pula suara wanita tersebut  bersungut-sungut tapi tidak jelas. Mimpi apa aku semalam ya Alloh....pikir Siti dengan mencari tempat duduk untuk menenangkan dirinya.
Dan pasti besok dia akan ditanya oleh semua teman guru...kenapa harus aku ya Alloh..Siti kembali bingung saat Tomi dan Rio menanyakan hal yang baru saja terjadi kepadanya. Namun, hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Siti untuk mereka.
Siang itu saat semua pekerjaan Siti sudah selesai dan  hanya tinggal menunggu waktu pulang . Lantai dua  di perpustakaan yang siang itu  tampak semilir angin menemani dua orang yang sedang berhadapan sambil bicara dari hati ke hati. Ada Anis yang menangis sesegukan dihadapan Siti, beberapa kata yang diucapkan pun terbata-bata.
“ Aku mau minta maaf dan mau pamit sekaberlian bu..”
“ Anis...kenapa kamu melakukan tersebut apa tidak ada laki-laki lain dan tidak perlu kamu merusak keluarga orang lain”
Siti menatap Anis yang sudah berurai air mata
“ Anis apa yang akan kamu lakukan kalau sudah tidak sekolah dan bagaimana hubunganmu dengan dia”
“Saya mungkin akan kerja bu, dan saya sudah putus dengan Pak Warno Bu..”,
“ Kapan?” Siti kembali bertanya dengan tidak sabar.
“ Tadi malam Pak Warno  dan istrinya ke rumah Bu..dan mengamuk di rumah saya sampai tetangga saya berdatangan, karena Ibu saya tidak tahu akhirnya Ibu dan istrinya Pak Warno bertengkar Bu.. di depan kami dan para tetangga Istri pak warno menjelaskan hubungan saya dengan Pak Warno  dan apabila dilanjutkan malam tadi saya dan Pak Warno akan diarak keliling kampung Bu....akhirnya Ibu dan saya yang minta maaf dan saya berjanji di depan semuanya saya putus dengan Pak Warno Bu...”. 
Tak sadar, mendengar semuanya Siti mengucap Istighfar beberapa kalinya.  Sambil mengusap air mata yang terus mengalir dan sambil mengatur nafas agar bisa bersuara Anis melanjutkan ceritanya dan Siti pun hanya diam menunggu semuanya seperti air bah yang meluap dan tumpah meruntuhkan segalanya.
“ Saya tidak tahu kalo akhirnya seperti ini Bu..karena ... karena...mmmm”
“ Karena apa Nis...” Siti akhirnya mendesak agar Anis bisa melanjutkan ceritanya.
“ Karena kata Pak Warno aku bisa dinikahi tanpa sepengetahuan Istrinya setelah aku lulus nanti Bu..”
Siti yang tadinya hanya diam dan berupaya mendinginkan otak dan hatinya, kini mulai menggigil penuh kemarahan dan ingin sekali dia saat itu memarahi laki-laki yang bernama Pak Warno itu. Namun, akhirnya ucapan Istighfar yang dia harus lakukan agar dia bisa menahan diri. Toh, semuanya sudah terjadi dan saat ini semuanya sudah berakhir.
 “ Sudahlah Nis...semua sudah terjadi, ambilah khikmah dari kejadian ini. Mencintai dan dicintai itu memang fitrah manusia Nis... Namun, alangkah indahnya apabila kita kembalikan fitrah itu kepada yang punya mencintai karena Alloh dan dicintai tanpa ada yang tersakiti”.
“ Ibu juga mohon maaf kalo ada yang salah Nis...walaupun Ibu tidak pernah mengajar kamu ya...”,
“ Iya bu..sama-sama”, Anis mengulurkan tangannya dan mencium tangan Siti.
“ Bu...doakan saya ya Bu...semoga semuanya berakhir dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi Bu..saya kasihan dengan Ibu saya”.
“ InsyaAlloh..”
“Oh ya Nis..kalo bisa tetaplah sekolah”
“ InsyaAlloh bu...akan saya pikirkan nanti”.
Istighfar terus dibaca oleh Siti dan tidak ada yang mungkin sesuatu terjadi di dunia nanti, mungkin cinta memang buta sehingga jalan menuju ke surgaNya pun terasa berat. Ah, Mas Zaki...sedang apa kau di Bandung..apakah kau menjaga cinta kita. Semoga tidak ada hati yang tersakiti apabila Alloh memang menentukan kita bukan sepasang merpati dari takdirNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Generasi Penerus Harus Berakhlakul Karimah

Cerita Putih Abu-Abu