Cerpen Kelabu di Penghujung Tahun
Kelabu di Penghujung Tahun
Cinta kadang memang sulit
dimengerti, begitu juga perasaan Laras terhadap Bima yang nyata-nyata dia
adalah seorang yang sudah dewasa mendekati tua atau lebih tepatnya Bima
seumuran Om-om. Namun entah dengan perasaan Laras yang semakin hari semakin mencintai Bima. Bukan hanya
karena dewasa tapi melihat sosok Bima, orang akan menduga bahwa Bima adalah
Ayahnya, ya lebih tepat menjadi seorang Ayahnya Laras, namun, Bukankah hal itu
yang menjdaikan Laras jatuh cinta bahkan rela menunggu bus yang ditumpangi Bima
hanya karena ingin bersama.
Pegawai honorer di sebuah sekolah dasar yang setiap
hari bolak balik dari Kendal tidak membuat Laras mengeluh, hal itu dikondisikan
karena orangtuanya yang hanya pensiunan Perhutani dengan gaji kecil dan dua
adiknya yang masih sekolah dan butuh biaya juga, akhirnya apapun pekerjaannya
dia lakoni. Laras menatap jalan yang lenggang hari itu, bukan karena hari itu
hari sabtu atau minggu tapi Laras harus berangkat lebih pagi agar bus yang
ditumpanginya biasanya membawa pegawai pabrik tempat Bima bekerja .Dari
kerumununa pegawai yang berbaju atas bawah biru itu pasti ada Bima. Tak sabar
rasanya Laras melihat dari arah biasanya bus akan datang.
Tampak pedagang terompet sudah
berjejer di atas trotoar , karena malam nanti adalah awal
tahun atau tahun baru.Dan Laras membayangkan betapa indahnya tahun baru ini
bersama seorang Bima. Beberapa kali kondektur
bus yang telah berhenti akan tidak bosan
menanyakan pada Laras, “Kemana Mbak?” atau “Patemon Mbak” dan setiap itu pula
Laras akan menjawab, “Ndak” atau hanya gelengan kepala yang mewakili dari
kata-kata tidak.Klakson bus membuat Laras terkejut dan benar ,dari tadi dia
menanti bus yang ada di depannya.Laras
berlari kecil dengan hati berdebar seolah hari itu dia mendapat sebongkah emas
di dalam bus tersebut. Tangan kanan menyentuh daun pintu dan tangan kiri
dipegang oleh kondektur, bus melaju berlahan dan tidak berhenti karena
menumpang di dalam bus ternyata sudah berjubel.
Laras membetulkan posisi agar dia
bisa melihat keseluruhan penumpang yang pagi itu tentunya berbaju atas bawah
biru dan karena masih terlalu pagi hanya satu dua orang memakai baju tidak sama
dengan pegawai pabrik. Mata laras kesana kemari mencari sosok yang bernama
Bima. Laras menggeser badannya agar semakin ke dalam dan berdesakan dengan
pagawai pabrik hingga sampai di bagian belakang bus, ternyata Bima tidak ada di
dalam bus.
Laras terkejut ada yang menyentuh
bahunya dari samping kanan, “Mbak, saya mau turun mbak sini kursinya kosong .”,
Laras tersenyum dan mengucapkan teriimakasih lantas menduduki kursi yang dimaksud oleh laki-laki yang akan turun
terlebih dahulu. Laras memandang jalan dengan pikiran tidak menentu ada apa
dengan laki-laki yang dicintainya.Apakah Bima lupa dengan hari ini? Bahwa hari
ini adalah hari yang telah ditentukan bersama bahkan Laras telah membawa semua
pakaiannya, dan malam tadi adalah pertengkaran argument dirinya dengan Ibunya
karena hanya seorang Bima.
Keinginan orang tua yang wajar
agar anaknya bisa memperbaiki kehidupan keluarganya,dan melihat sosok Laras
yang cantik harus berdampingan dengan Bima yang sudah separuh baya. Malam tadi
setelah Ibunya meninggalkan dirinya yang tengah sesegukan karena air mata yang
jatuh dari beberapa jam yang lalu, Laras menelpon Bima. Lupakah bima kalau hari
ini Laras akan diperkenalkan oleh orangtuanya Bima sekaligus akan menikah siri
tanpa persetujuan orangtuanya sekalipun?. Laras sudah tidak kuat dan membiarkan
dirinya dilihat oleh beberapa mata yang melirik kalo air matanya kini sudah
berderai tanpa henti.
Tiba-tiba seorang wanita yang
sejak tadi duduk bersama dirinya ternyata sejak tadi memperhatikannya dan
berucap, “ Maaf mbak kalo tidak salah mbak yang sering ngobrol dengan Bima di
bus ini ya..” “eh…kenapa mbak menangis?..ada apa..apa ada yang salah dengan
perkataan saya”, Laras tercengang dengan berondongan kata yang dikeluarkan oleh
wanita tersebut, “oh..eh..tidak..mbak kenal Bima?..apakah mbak tahu Mas Bima
hari ini,…Wanita itu menatap lekat wajah Laras,”Saya kurang tahu mbak, tapi
Bima hari ini tidak masuk dan meninggalkan kontrakan dari tadi malam kata
temanku”.
Wajah Laras pucat seketika,
kontrakan? Bukankah selama ini Bima mengatakan asli Semarang dan kenapa Bima
meninggalkan semuanya malam tadi bukankah dia tahu kalo hari ini dia harus
memperkenalkan aku dengan kedua orangtuanya ,lantas siapa yang mau bertanggung
jawab dengan semua baju yang sudah aku bawa dan segepok cinta lima bulan yang
lalu dan saat ini pun masih membara?. Laras terkulai lemas sambil memegangi perutnya
dan dunia pun menjadi gelap gulita. Awal tahun yang penuh kelabu dengan
menyisakan anak manusia yang terhempas dengan harapan-harapan palsu.
Komentar
Posting Komentar