Lembayung di Ujung Senja
Hari ini langit begitu cerah, secerah seorang pendidik akan mengawali harinya dengan bertemu dengan siswa siswinya. Bu Dini menghembuskan nafasnya perlahan dengan duduk di ujung kursinya yang dari tadi mengeluarkan suara tanda kursi itu sudah tua. Ruang guru yang banyak penghuninya pagi itu kelihatan sepi sekali karena semua teman guru bu Dini sedang mengajar di kelas masing-masing. Hanya seorang bu Dini yang kebetulan untuk hari itu tidak mengajar karena digantikan oleh jam mengajar Kepala Sekolah. Tatapan mata nanar dan wajah yang sudah keriput mengharuskan bu Dini yang sudah tua membetulkan kudungnya sambil melihat buku anak-anak kelas V yang masih belum tersentuh olehnya dari minggu kemarin. Pikirannya melayang kemarin sore dia melihat uang di dalam dompetnya tinggal beberapa lembar padahal hari untuk bulan ini pasih panjang. Teringat juga anak pertama Rahman yang meminta dibelikan laptop karena untuk keperluan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya yang sekarang kelas X di SMA favorit di kotanya. Belum lagi anak kedua yang meminta tas baru karena tasnya sudah rusak dan belumpernah ganti dari kelas 1 SD sampai sekarang.Aanak keduanya Fandi duduk di kelas V SD bersebarangan dengan MI tempat bu Dini mengajar. Beberapa kali ingin dia memutar otak bagaimana dia harus menyelesaikan masalah keuangan karena suaminya sudah mendahului dia lima tahun yang lalu saat Fandi masih belum 1 tahun . Takdir memang kejam pikir bu Dini, namun dia takut untuk membenci Tuhan, apalagi saaat-saat seperti ini dia butuh Tuhan yang harus membantunya untuk menyelesaikan setiap masalah yang semakin lama semakin menumpuk saja.Tuhan .....bantu aku ....doa lirih bu Dini memecah kesunyian ruang guru pagi itu tanpa disadarinya. Seorang guru bu Risma masuk kantor guru dengan memberinya salam,dan melihat bu Dini yang sudah dulu di dalam kantor guru, bu Risma menyapa lalu menyalaminya.bu Dini menegurnya terlebih dahulu, " baru berangkat bu?" bu Risma menjawab sambil tersenyum, " Inggih bu..anu..suami saya tadi malam pulang", bu Dini ikut tersenyum melihat teman guru yang di depannya menyiratkan wajah bahagia dan melanjutkan pertanyaannya lagi, " wah....Pak Santo pulang dari Jakarta pasti oleh-olehnya banyak nggeh bu.." bu Risma menjawab sambil tertawa dan menuju ke tempat duduknya, " hahahah biasalah bu..Ayahnya Nino kalo pulang selalu bawa berbagai macam oleh-oleh untuk Nino, kalo aku ya minta yang ada di dompetnya aja yang banyak bu.." bu Dini ikut tertawa apa yang dilontarkan oleh bu Risma. Pikirannya akhirnya bergelut dengan perasaan yang sakit, rindu dengan suang suami dan berbagai macam pikiran lainnya. Kalo jadi bu Risma betapa senangnya pikir bu Dini, punya anak satu, suami kerja mapan di Jakarta yang setiap bulan sekali pulang ke desa terpencil ini dan membawa banyak uang kata bu Risma yang kebetulan wataknya pamer dan sombong. Kata orang kalo melihatnya seperti toko emas berjalan, semua perhiasan yang dipunyai dipakainya bahkan bisa satu hari ganti perhiasan, sehingga menjadi perhatian baik teman guru maupun wali murid yang kebetulan mengantar dan menjemput anaknya di sekolah..Sedangkan bu Dini satu cincin hasil pemberian mendiang suaminya saja sudah ikut terbawa untuk beli makan yang masuk ke perut. Tuhan memang sangat sayang dengan umatnya apalagi umatnya yang bersabar. Bu Dini yang tidak punya kekuatan lagi untuk mencari pekerjaan sampingan karena waktu mengajar sekarang padat bahkan diharuskan pulang sesuai jam yang sudah diterapkan oleh pemerintah. Sampai rumah tentu perhatianyan kepada anaknya kedua yang menurutnya anak yang harus diberi perhatian karena tidak pernah melihat wajah Bapaknya, belum lagi seonggok baju yang kadang belum disetrika menggunung di satu-satunya kamar rumah sempitnya.Hari semakin siang dan tepatnya waktu pulang sekolah dan tugas mengajar sudah selesai. Saat mendengar bel berbunyi betapa senangnya bu Dini bahwa rasa lelahnya hari ini akan segera selesai.Bergegas bu Dini menuju ruang guru dan menyelesaikan tugas yang belum selesai seperti menilai buku-buku tugas siswanya. Setelah itu menyalami beberapa teman guru yang sedang asyik ngobrol atau teman guru laki-laki yang sedang bersiap-siap memberikan ekstra atau latihan upacara besok kepada anak-anaknya.Berjalan menyusuri jalan yang dilaluinya sambil melihat Fandi berjalan didepannya bersama teman-temanya, perjalanannya begitu mengasyikkan apalagi disamping kanan kirinya pohon menjulang tinggi dan aliran sungai yang kelihatan dari atas desa tersebut membuat suasana desanya memang benar-benar sungguh indah. Fandi berjalan ke arah ibunya sambil bergelanyut manja memegang tas bu Dini yang talinya hampir pustus dan satu-satunya tas yang sekian lama belum ganti karena tidak enak mau ambil di koperasi di sekolah, hutang untukmenyekolahkan anaknya pertama aja belum lunas. "ada apa Fan?" tanya bu Dini yang melihat anaknya terlepas dari gerombolan teman-temannya. " Ibu...kapan kita kalo pulang pakai motor..seperti Nino.." mendengar perkataan Fandi tersebut bu Dini menjawab sambil memeluk pundak anaknya kedua yang ternyata sudah setinggi pundak ibunya. " Biar motornya dipakai sama masmu nang...kita jalan bareng kayak gini sama teman-temanmu apa kamu ndak senang. Ibu aja senang kok..kalo naik motor kita ndak bisa guyon seperti ini, kita ndak dikasih jambu, gedang, dan jantung dari lek Kasman. Daun singkong dari mbah Supi".Fandi pun manggut-manggut sambil sesekali mengambil rumput yang sudah tinggi-tinggi disisi kanannya berjalan. Entah apa yang ada di benak pikirannnya anak lima SD itu, namun melihatnya Fandi tidak protes lagi, bu Dini urung melanjutkan kata-katanya lagi agar Fandi memahami situasi keuangannya yang sulit. Fandi bergabung lagi dengan teman-temannya dan guyon lagi bersama. Dan perjalanan pulang masih membentang panjang di depan bu Dini dan anaknya ..semoga puasaku hari ini dan hari-hari selanjutnya dimudahkan olehMu ya Tuhan...doa sepanjang jalan menuju ke rumahnya selalu dia panjatkan. Seperti bergantinya hari demi hari ia lalui dari siang berganti senja dan lembayung di ujung senja pun akan kembali memancarkan keindahannya sama seperti kasih sayang Tuhan kepadanya yang tidak akan meninggalkannya.
Hari ini langit begitu cerah, secerah seorang pendidik akan mengawali harinya dengan bertemu dengan siswa siswinya. Bu Dini menghembuskan nafasnya perlahan dengan duduk di ujung kursinya yang dari tadi mengeluarkan suara tanda kursi itu sudah tua. Ruang guru yang banyak penghuninya pagi itu kelihatan sepi sekali karena semua teman guru bu Dini sedang mengajar di kelas masing-masing. Hanya seorang bu Dini yang kebetulan untuk hari itu tidak mengajar karena digantikan oleh jam mengajar Kepala Sekolah. Tatapan mata nanar dan wajah yang sudah keriput mengharuskan bu Dini yang sudah tua membetulkan kudungnya sambil melihat buku anak-anak kelas V yang masih belum tersentuh olehnya dari minggu kemarin. Pikirannya melayang kemarin sore dia melihat uang di dalam dompetnya tinggal beberapa lembar padahal hari untuk bulan ini pasih panjang. Teringat juga anak pertama Rahman yang meminta dibelikan laptop karena untuk keperluan menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya yang sekarang kelas X di SMA favorit di kotanya. Belum lagi anak kedua yang meminta tas baru karena tasnya sudah rusak dan belumpernah ganti dari kelas 1 SD sampai sekarang.Aanak keduanya Fandi duduk di kelas V SD bersebarangan dengan MI tempat bu Dini mengajar. Beberapa kali ingin dia memutar otak bagaimana dia harus menyelesaikan masalah keuangan karena suaminya sudah mendahului dia lima tahun yang lalu saat Fandi masih belum 1 tahun . Takdir memang kejam pikir bu Dini, namun dia takut untuk membenci Tuhan, apalagi saaat-saat seperti ini dia butuh Tuhan yang harus membantunya untuk menyelesaikan setiap masalah yang semakin lama semakin menumpuk saja.Tuhan .....bantu aku ....doa lirih bu Dini memecah kesunyian ruang guru pagi itu tanpa disadarinya. Seorang guru bu Risma masuk kantor guru dengan memberinya salam,dan melihat bu Dini yang sudah dulu di dalam kantor guru, bu Risma menyapa lalu menyalaminya.bu Dini menegurnya terlebih dahulu, " baru berangkat bu?" bu Risma menjawab sambil tersenyum, " Inggih bu..anu..suami saya tadi malam pulang", bu Dini ikut tersenyum melihat teman guru yang di depannya menyiratkan wajah bahagia dan melanjutkan pertanyaannya lagi, " wah....Pak Santo pulang dari Jakarta pasti oleh-olehnya banyak nggeh bu.." bu Risma menjawab sambil tertawa dan menuju ke tempat duduknya, " hahahah biasalah bu..Ayahnya Nino kalo pulang selalu bawa berbagai macam oleh-oleh untuk Nino, kalo aku ya minta yang ada di dompetnya aja yang banyak bu.." bu Dini ikut tertawa apa yang dilontarkan oleh bu Risma. Pikirannya akhirnya bergelut dengan perasaan yang sakit, rindu dengan suang suami dan berbagai macam pikiran lainnya. Kalo jadi bu Risma betapa senangnya pikir bu Dini, punya anak satu, suami kerja mapan di Jakarta yang setiap bulan sekali pulang ke desa terpencil ini dan membawa banyak uang kata bu Risma yang kebetulan wataknya pamer dan sombong. Kata orang kalo melihatnya seperti toko emas berjalan, semua perhiasan yang dipunyai dipakainya bahkan bisa satu hari ganti perhiasan, sehingga menjadi perhatian baik teman guru maupun wali murid yang kebetulan mengantar dan menjemput anaknya di sekolah..Sedangkan bu Dini satu cincin hasil pemberian mendiang suaminya saja sudah ikut terbawa untuk beli makan yang masuk ke perut. Tuhan memang sangat sayang dengan umatnya apalagi umatnya yang bersabar. Bu Dini yang tidak punya kekuatan lagi untuk mencari pekerjaan sampingan karena waktu mengajar sekarang padat bahkan diharuskan pulang sesuai jam yang sudah diterapkan oleh pemerintah. Sampai rumah tentu perhatianyan kepada anaknya kedua yang menurutnya anak yang harus diberi perhatian karena tidak pernah melihat wajah Bapaknya, belum lagi seonggok baju yang kadang belum disetrika menggunung di satu-satunya kamar rumah sempitnya.Hari semakin siang dan tepatnya waktu pulang sekolah dan tugas mengajar sudah selesai. Saat mendengar bel berbunyi betapa senangnya bu Dini bahwa rasa lelahnya hari ini akan segera selesai.Bergegas bu Dini menuju ruang guru dan menyelesaikan tugas yang belum selesai seperti menilai buku-buku tugas siswanya. Setelah itu menyalami beberapa teman guru yang sedang asyik ngobrol atau teman guru laki-laki yang sedang bersiap-siap memberikan ekstra atau latihan upacara besok kepada anak-anaknya.Berjalan menyusuri jalan yang dilaluinya sambil melihat Fandi berjalan didepannya bersama teman-temanya, perjalanannya begitu mengasyikkan apalagi disamping kanan kirinya pohon menjulang tinggi dan aliran sungai yang kelihatan dari atas desa tersebut membuat suasana desanya memang benar-benar sungguh indah. Fandi berjalan ke arah ibunya sambil bergelanyut manja memegang tas bu Dini yang talinya hampir pustus dan satu-satunya tas yang sekian lama belum ganti karena tidak enak mau ambil di koperasi di sekolah, hutang untukmenyekolahkan anaknya pertama aja belum lunas. "ada apa Fan?" tanya bu Dini yang melihat anaknya terlepas dari gerombolan teman-temannya. " Ibu...kapan kita kalo pulang pakai motor..seperti Nino.." mendengar perkataan Fandi tersebut bu Dini menjawab sambil memeluk pundak anaknya kedua yang ternyata sudah setinggi pundak ibunya. " Biar motornya dipakai sama masmu nang...kita jalan bareng kayak gini sama teman-temanmu apa kamu ndak senang. Ibu aja senang kok..kalo naik motor kita ndak bisa guyon seperti ini, kita ndak dikasih jambu, gedang, dan jantung dari lek Kasman. Daun singkong dari mbah Supi".Fandi pun manggut-manggut sambil sesekali mengambil rumput yang sudah tinggi-tinggi disisi kanannya berjalan. Entah apa yang ada di benak pikirannnya anak lima SD itu, namun melihatnya Fandi tidak protes lagi, bu Dini urung melanjutkan kata-katanya lagi agar Fandi memahami situasi keuangannya yang sulit. Fandi bergabung lagi dengan teman-temannya dan guyon lagi bersama. Dan perjalanan pulang masih membentang panjang di depan bu Dini dan anaknya ..semoga puasaku hari ini dan hari-hari selanjutnya dimudahkan olehMu ya Tuhan...doa sepanjang jalan menuju ke rumahnya selalu dia panjatkan. Seperti bergantinya hari demi hari ia lalui dari siang berganti senja dan lembayung di ujung senja pun akan kembali memancarkan keindahannya sama seperti kasih sayang Tuhan kepadanya yang tidak akan meninggalkannya.
Komentar
Posting Komentar